Pertemuan Konsultasi Masyarakat SID Penyediaan Air Baku Kawasan Borobudur dan Prambanan untuk Desa Benowo, Kabupaten Purworejo

By bidang_epw 10 Okt 2021, 07:01:21 WIB EPW

Berita Terkait

Berita Populer

Pertemuan Konsultasi Masyarakat SID Penyediaan Air Baku Kawasan Borobudur dan Prambanan untuk Desa Benowo, Kabupaten Purworejo

Dalam rangka menjaring aspirasi, masukan dan saran dari stakeholder terkait dengan rencana penyediaan air baku di Kawasan Borobudur Highland (BHL) agar sesuai dengan kondisi social ekonomi di lingkungan setempat dan sesuai dengan rencana program pengembangan Kawasan BHL yang ada dalam dokumen Masterplan Kawasan Badan Otorita Borobudur/Borobudur Highland (BHL), BBWS Serayu Opak Yogyakarta menyelenggarakan Pertemuan Konsultasi Masyarakat (PKM) SID Penyediaan Air Baku Kawasan Borobudur Highland pada hari Rabu, tanggal 06 Oktober 2021 secara daring. Acara tersebut diikuti oleh perwakilan dari Bappeda Provinsi Jawa Tengah, Dinas Pusdataru Provinsi Jawa Tengah, Dinas BMCK Provinsi Jawa Tengah, Balai PSDA Probolo, Bappeda, Dinas PUPR, Dinas Perkimtan Kabupaten Purworejo, PDAM Tirta Perwita Sari dan Kades Benowo Kecamatan Bener.

Berdasarkan masterplan Borobudur Highland (BHL) konsep awal penyediaan BHL terbagi dalam 3 tahapan. Pada perencanaan jangka pendek, penyediaan air baku didapat dari mata air, sungai dan air tanah. Pada perencanaan jangka menengah penyediaan air baku berasal dari layanan PDAM. Sedangkan untuk perencanaan jangka panjang, air baku berasal dari bendung Bedegolan di Kabupaten Kebumen (SPAM Regional Keburejo). Karena elevasi BHL 400-100 mdpl sementara Bendung Bedegolan elevasinya 20 mdpl, maka perlu dicari alternatif sumber air baku untuk penyedeiaan air bersih yang lain. (Yang lokasinya dekat dan secara elevasi memenuhi syarat). Berdasarkan hasil survey, di Desa Benowo terdapat salah satu sumber air baku yang layak sebagai pengambilan intake yaitu Sungai/Air Terjun Padusan yang berada pada ketinggian 700 mdpl.

Untuk mengetahui ketersediaan debit air baku pada sungai/air terjun Padusan, diperlukan analisa ketersediaan air baku, yang biasanya menggunakan analisas debit metode FJ. Mock pada DTA STA terdekat. Karena pada DTA sungai Padusan tidak terdapat data debit ataupun data curah hujan, akhirnya dicari pendekatan dengan menggunakan data curah hujan STA terdekat, yaitu STA Pungangan. Berdasarkan hasil Analisa debit metode Rainfall-Runoff (FJ Mock), didapatkan nilai keandalan ketersediaan air sebesar 92,3%. Hal tersebut akan dapat mencukupi kebutuhan air minum jika disediakan tampungan ketika defisit selama musim kemarau 4 bulan. Adapun tampungan/long storage yang dibutuhkan serlama bulan kemarau sebesar 75.47 m3.

Total kebutuhan air baku berdasarkan hasil analisa kebutuhan baik itu untuk kebutuhan Borobudur Highland (BHL) dan masyarakat desa Benowo Kecamatan Bener sebesar 11.5 lt/detik, dimana nilai tersebut terbagi menjadi 9.39 lt/detik untuk kebutuhan BHL dan 2.11 lt/detik untuk masyarakat Desa Benowo Kecamatan Bener. Terhadap kualitas air baku di Sungai/air terjun padusan, sudah dilakukan uji laboratorium terhadap kualitas air baku Sungai/air terjin Padusan, dimana hasilnya parameter yang melebihi kadar maksimum yaitu Fosfat sebesar 0.461 mg/l dan belerang sebesar 0.0046 mg/L. Salah satu upaya untuk menurunkan kadar fosfat yaitu dengan mengaplikasikan system resirkulasi dengan penambahan filter zeolite. Sedangkan untuk menurunkan kadar belerang dapat menggunakan filter air nazava.

Terdapat 4 (empat) system planning pada pekerjaan penyediaan air baku Borobudur Highland (BHL) yaitu perencanaan long storage sebagai tempat pengambilan (intake), perencanaan reservoir, perencanaan pompa, dan perencanaan pipa transmisi. Ada 2 opsi untuk rencana penempatan dan pemasangan pompa. Untuk pemasangan 2 pompa akan lebih mahal dalam biaya konstruksi, tetapi lebih murah dalam hal biaya operasional. Sedangkan untuk pemasangan 1 pompa, biaya konstruksi lebih murah tapi biaya oprerasional lebih murah. Dalam pekerjaan SID tersebut, yang perlu mendapatkan perhatian adalah penggunaan pompa dengan head besar, karena hal tersebut berimplikasi terhadap biaya operasional nantinya, dimana biaya operasional yang dominan yaitu biaya kebutuhan listrik an biaya BBM untuk genset. Pada lokasi long storage, jenis tanah pasir, lanau berlempung sangat padat, sehingga aman terhadap penurunan. Yang perlu diperhatikan terhadap pergeseran dan rembesan air dibawah pondasi, sehingga perlu adanya penyelidikan bor inti (kedalaman 15 m) di 3 titik pada site bangunan. Sedangkan pada lokasi reservoir, jenis tanah lanau berlempung dan pada kedalaman 15.2 m berupa tanah keras. Sehinggga perlu Analisa beban bangunan RS. Apakah diperlukan tambahan daya dukung dengan tiang pancang. Khusus untuk layanan Desa Benowo Kecamatan Bener akan dibuatkan Reservoir tersendiri.(/fse).




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment