Get Adobe Flash player
Senin, 30 Mei 2016
Dokumen dan Kegiatan
Jumlah Pengunjung
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterhari ini75
mod_vvisit_counterkemarin100
mod_vvisit_counterminggu ini75
mod_vvisit_counterbulan ini2945

Proses pembangunan di Kabupaten Purworejo ternyata tidak lepas dari adanya ketimpangan kewilayahan. Ketimpangan terjadi salah satunya karena akibat dari kegiatan ekonomi yang belum merata. Secara makro terdapat kesenjangan kewilayahan khususnya antara daerah atas yang dalam hal ini termasuk beberapa kecamatan di dataran tinggi dan daerah bawah yang merupakan kota beserta beberapa kecamatan di daerah datar. Dikotomi ini tentunya menjadi salah satu hal yang harus diselesaikan secara simultan, komprehensif dan berkelanjutan mengingat bahwa potensi kemiskinan dapat timbul akibat adanya kesejangan wilayah tersebut.

Ketimpangan pembangunan antar kecamatan yang terjadi di Kabuapten Purworejo dari tahun 2004-2009 dapat dianalisis dengan menggunakan indeks ketimpangan regional yang dinamakan indeks ketimpangan Williamson. Indeks ini dihitung dengan menggunakan komponen tama yaitu PDRB per Kapita serta jumlah penduduk masing-masing kecamatan. Angka indeks ketimpangan Williamson yang semakin kecil atau mendekati nol menunjukan ketimpangan yang semakin kecil atau dengan kata lain semakin merata, dan apabila semakin besar atau semakin jauh dari nol menunjukan ketimpangan yang semakin melebar.

Perkembangan angka ketimpangan di Kabupaten Purworejo dari tahun 2004-2009 menunjukan grafik fluktuatif yaitu dari 0,6681; 0,7122; 0,7145; 0,6800 dan 0,6066 di 2009. Artinya bahwa ketimpangan kewilayahan di Kabupaten Purworejo dari tahun ke tahun semakin melebar dan mengalami kenaikan pada tahun 2007. Kesenjangan antar wilayah kecamatan yang tampak tersebut mengindikasikan bahwa beberapa wilayah kecmatan relatif berada di bawah kondisi secara umum rata-rata wilayah yang lainnya. Proses akumulasi dan mobilisasi sumber-sumber berupa akumulasi modal, ketrampilan tenaga kerja dan sumber daya alam yang dimiliki oleh suatu daerah merupakan pemicu dalam laju pertumbuhan ekonomi wilayah yang bersangkutan. Adanya heterogenitas dan beragam karakteristik suatu wilayah menyebabkan kecenderungan terjadinya konsentrasi aktivitas ekonomi secara parsial dan memunculkan kondisi ketimpangan antar daerah.

Namun demikian trend positif ditunjukan pada tahun 2008 dan 2009 dimana kecenderungan kesenjangan relatif lebih baik dan mencapai 0,6606 di tahun 2009.

Gambar 2.6. Indeks Ketimpangan Regional Kabupaten Purworejo Tahun 2004-2009


Sumber: PDRB Kabupaten Purworejo berbagai tahun terbitan (diolah)